Hari ini, sungguh menyenangkan! Bayangkan saja, 17 Agustus! Setiap desa, komplek, atau perumahan pasti ramai sekali! Di komplekku saja heboh banget. Banyak lomba-lomba yang diadakan di komplekku. Ada memasukkan bendera, holahoop, jeruk chemonx, menyusun huruf, balap karung dan menggambar!
Dari dulu, aku pengen banget ikut lomba melukis. Tapi gak pernah kesampean! Ya, habisnya udah kelas 6, sih! Coba kalau masih kelas 1,2,3,4,5... kan masih banyak kesempatan, tuh! Akhirnya, hari yang kutunggu-tunggu, datang juga.
Kemarin tuh, setelah pendaftaran... Eh, bukannya 5 menitnya untuk siap-siap, malah langsung dibagiin kertas untuk gambar. Ih, mau gambar apa ya tentang kemerdekaan?
"Waktunya 90 menit. Temanya 'Kemerdekaan Indonesia', dimulai dari sekarang!" seru sang MC. Bingung asdfghjkl udahlah gambar tentara, suster, korban yang jalannya ngesot, bom atom, kawat berduri, jebam jebum!
"Waktunya 10 menit lagi! " seru juri. Heh? 10 menit lagi? Ya Allah, baru aja gambar bendera merah putih!
"Oh, iya. Untuk yang menggambar ditambah waktunya 5 menit lagi. " seru sang juri lagi.
"Waktunya habis!" seru sang MC.
Wassalam.
Esoknya, saat sore hari adalah lomba panjat pinang dan pembagian hadiah. Acara pertama adalah panjat pinang. Ada tim Abrar dan tim Arie. Tim Abrar itu ada Cahyo, Bayu sama satu laginya siapa gitu. Gak tau namanya siapa. Kalau timnya Arie ini, bolehlah. Ada Faiz, Arkan, dan Adit. Kelompok Arie jelaslah yang ngebabat semua hadiah panjat pinang. Kasian banget si Arie berlumur oli. Setelah panjat pinang selesai, tibalah pengumuman pemenang. Aku, Yuni, Agatha, Agnes, Tasya, Atika, dan Lala, main-main dulu.
"Ayo, anak-anak yang kami sayangi. Duduk di bawah, ya?" seru tante Heru. Kami menurut.
" Bla... Bla... Bla... Juara 1 Mewarnai, Pramesti!" Semua orang tepuk tangan. Pramesti tuh masih TK udah pintar holahoop dan mewarnai, krayonnya aja karandas, pake pensil demothograph lagi. Keren yak.
"Bla... Bla... Sekarang, Juara 1 Menggambar, Afifah! "
Eh? Ngewarnainnya aja belum selesai, kok menang sih? Akhirnya aku pun maju dan menerima hadiah. Coba tebak apa hadiahnya?
3 buah snack ringan.
Tepuk tangannya, dong?
Kres kres. Tapi, aku senang sekali! :)
Dari dulu, aku pengen banget ikut lomba melukis. Tapi gak pernah kesampean! Ya, habisnya udah kelas 6, sih! Coba kalau masih kelas 1,2,3,4,5... kan masih banyak kesempatan, tuh! Akhirnya, hari yang kutunggu-tunggu, datang juga.
Kemarin tuh, setelah pendaftaran... Eh, bukannya 5 menitnya untuk siap-siap, malah langsung dibagiin kertas untuk gambar. Ih, mau gambar apa ya tentang kemerdekaan?
"Waktunya 90 menit. Temanya 'Kemerdekaan Indonesia', dimulai dari sekarang!" seru sang MC. Bingung asdfghjkl udahlah gambar tentara, suster, korban yang jalannya ngesot, bom atom, kawat berduri, jebam jebum!
"Waktunya 10 menit lagi! " seru juri. Heh? 10 menit lagi? Ya Allah, baru aja gambar bendera merah putih!
"Oh, iya. Untuk yang menggambar ditambah waktunya 5 menit lagi. " seru sang juri lagi.
"Waktunya habis!" seru sang MC.
Wassalam.
Esoknya, saat sore hari adalah lomba panjat pinang dan pembagian hadiah. Acara pertama adalah panjat pinang. Ada tim Abrar dan tim Arie. Tim Abrar itu ada Cahyo, Bayu sama satu laginya siapa gitu. Gak tau namanya siapa. Kalau timnya Arie ini, bolehlah. Ada Faiz, Arkan, dan Adit. Kelompok Arie jelaslah yang ngebabat semua hadiah panjat pinang. Kasian banget si Arie berlumur oli. Setelah panjat pinang selesai, tibalah pengumuman pemenang. Aku, Yuni, Agatha, Agnes, Tasya, Atika, dan Lala, main-main dulu.
"Ayo, anak-anak yang kami sayangi. Duduk di bawah, ya?" seru tante Heru. Kami menurut.
" Bla... Bla... Bla... Juara 1 Mewarnai, Pramesti!" Semua orang tepuk tangan. Pramesti tuh masih TK udah pintar holahoop dan mewarnai, krayonnya aja karandas, pake pensil demothograph lagi. Keren yak.
"Bla... Bla... Sekarang, Juara 1 Menggambar, Afifah! "
Eh? Ngewarnainnya aja belum selesai, kok menang sih? Akhirnya aku pun maju dan menerima hadiah. Coba tebak apa hadiahnya?
3 buah snack ringan.
Tepuk tangannya, dong?
Kres kres. Tapi, aku senang sekali! :)
Kukira, matematikalah pelajaran paling sulit! Menurutku saat 5 tahun yang lalu. Memang benar, lho. Persahabatanku dengan matematika selalu ada kebaikan yang datang, juga keburukan, apalagi! Saat itu saja, nilai matematikaku selalu saja membuat aku tutup mata. Karena sesuatu tertulis dengan tinta merah. Entah nilai ulangan harian lah, praktek lah, eksplorasi lah, ulangan akhir, dan yang lainnya selalu merah. Tapi, karena itu aku jadi penasaran dengan matematika. Apa sih, yang membuatku susah sekali meraih angka biru?
Suatu hari di kelas. "Besok ulangan matematika, ya?" seru Bu Tanti di depan kelas.
"Hah? Besok, Bu?" tanya teman-temanku
"Kenapa? Mau sekarang?" tanya Bu Tanti sambil tertawa.
Teman-temanku kaget. "Nggak lah, Bu!"
"Oke, pelajari tentang operasi bilangan, ya." kata Bu Tanti kemudian.
Teman-temanku mengangguk, kecuali aku. Aku hanya mengangguk dalam hati, karena aku malah sibuk mencari pensil yang hilang.
Esoknya, pelajaran pertama ialah MATEMATIKA. Semua anak sudah bersiap di meja masing-masing termasuk aku. Tak lama kemudian, Bu Tanti masuk dengan memegang folder yang berisi kertas ulangan matematika. 5 menit kemudian, kertas pun dibagikan lengkap dengan kertas jawabannya.
"Waktunya hanya 90 menit, 30 soal. Tulis bismillah, nama, kelas, hari tanggal di tempat yang telah disediakan. Tidak ada yang berdiskusi! Pengawasan tetap berlanjut." terang Bu Tanti di depan kelas. Aku pun mulai menulis identitas diri seperti nama dan sebagainya. Kemudian aku mulai mengerjakan soal.
Waktu pun terus bergulir. Jam menunjukkan pukul 08.30. Artinya, 30 menit lagi waktu habis. Tak sampai pukul 09.00, 30 soal telah kuselesaikan. Aku pun segera mengumpulkan kertas di meja guru. Karena ...
"Time is Up!" seru Bu Tanti. Spontan teman-temanku langsung menyerahkan kertas ulangan itu di meja guru. Kulihat ekspresi teman-temanku, ada Titi yang senang banget! Ada Bila yang sedari tadi mondar-mandir, mencari jejak kakinya. Ada Salsa yang sedang berbincang-bincang dengan Sinta dan Icha. Ada Syifa yang cengar-cengir. Ada aku yang sedang pasrah dengan nilai matematika. Semalam aku sudah belajar mati-matian, dibantu oleh ayah, dengan ditemani secangkir cokelat panas. Walau yang ada aku malah bolak-balik nyari cookies di kulkas untuk menemani cokelat panas.
Dua hari kemudian. "Pembacaan nilai ulangan matematika!" seru Bu Tanti.
"Hah? Cepat banget!" seru Syifa kaget. Aku juga syok.
"Oke, langsung saja. Arif, 9.5! Titi, 8.7! Shafwan, 7.6! Rizqi, 4.6! Bila, 5.9! ... Fifah, 10.0!"
Eh, aku mimpi?
Hahaha, lebe.
"Alhamdulillah." ucapku dalam hati. Teman-temanku memberikan selamat kepadaku.
"Fifah, es krimnya besok, ya?" kata Bu Tanti sambil keluar kelas.
"Es Krim? Boleh juga, Bu. Hehehe."
"Wah, es krim! Bagi ya, Fif." sahut Rama. Aku hanya membalas sinis sambil tertawa.
Sejak hari itu, sejak aku dikasih es krim, aku jadi tambah semangat belajar matematika.
Eh, salah.
Bukan karena es krim kok, tapi karena niat dan semangatkulah sehingga aku dimudahkan dalam belajar matematika. Teman-teman juga pasti bisa! :)
Suatu hari di kelas. "Besok ulangan matematika, ya?" seru Bu Tanti di depan kelas.
"Hah? Besok, Bu?" tanya teman-temanku
"Kenapa? Mau sekarang?" tanya Bu Tanti sambil tertawa.
Teman-temanku kaget. "Nggak lah, Bu!"
"Oke, pelajari tentang operasi bilangan, ya." kata Bu Tanti kemudian.
Teman-temanku mengangguk, kecuali aku. Aku hanya mengangguk dalam hati, karena aku malah sibuk mencari pensil yang hilang.
Esoknya, pelajaran pertama ialah MATEMATIKA. Semua anak sudah bersiap di meja masing-masing termasuk aku. Tak lama kemudian, Bu Tanti masuk dengan memegang folder yang berisi kertas ulangan matematika. 5 menit kemudian, kertas pun dibagikan lengkap dengan kertas jawabannya.
"Waktunya hanya 90 menit, 30 soal. Tulis bismillah, nama, kelas, hari tanggal di tempat yang telah disediakan. Tidak ada yang berdiskusi! Pengawasan tetap berlanjut." terang Bu Tanti di depan kelas. Aku pun mulai menulis identitas diri seperti nama dan sebagainya. Kemudian aku mulai mengerjakan soal.
Waktu pun terus bergulir. Jam menunjukkan pukul 08.30. Artinya, 30 menit lagi waktu habis. Tak sampai pukul 09.00, 30 soal telah kuselesaikan. Aku pun segera mengumpulkan kertas di meja guru. Karena ...
"Time is Up!" seru Bu Tanti. Spontan teman-temanku langsung menyerahkan kertas ulangan itu di meja guru. Kulihat ekspresi teman-temanku, ada Titi yang senang banget! Ada Bila yang sedari tadi mondar-mandir, mencari jejak kakinya. Ada Salsa yang sedang berbincang-bincang dengan Sinta dan Icha. Ada Syifa yang cengar-cengir. Ada aku yang sedang pasrah dengan nilai matematika. Semalam aku sudah belajar mati-matian, dibantu oleh ayah, dengan ditemani secangkir cokelat panas. Walau yang ada aku malah bolak-balik nyari cookies di kulkas untuk menemani cokelat panas.
Dua hari kemudian. "Pembacaan nilai ulangan matematika!" seru Bu Tanti.
"Hah? Cepat banget!" seru Syifa kaget. Aku juga syok.
"Oke, langsung saja. Arif, 9.5! Titi, 8.7! Shafwan, 7.6! Rizqi, 4.6! Bila, 5.9! ... Fifah, 10.0!"
Eh, aku mimpi?
Hahaha, lebe.
"Alhamdulillah." ucapku dalam hati. Teman-temanku memberikan selamat kepadaku.
"Fifah, es krimnya besok, ya?" kata Bu Tanti sambil keluar kelas.
"Es Krim? Boleh juga, Bu. Hehehe."
"Wah, es krim! Bagi ya, Fif." sahut Rama. Aku hanya membalas sinis sambil tertawa.
Sejak hari itu, sejak aku dikasih es krim, aku jadi tambah semangat belajar matematika.
Eh, salah.
Bukan karena es krim kok, tapi karena niat dan semangatkulah sehingga aku dimudahkan dalam belajar matematika. Teman-teman juga pasti bisa! :)








